Pemenang di akhir petang

    Ternyata pemenangnya tak harus memiliki apa yang ia inginkan. Membuat seseorang menjadi tenang itulah pemenang, mengapa selalu di sebut sebagai "Pemenang di akhir petang" Ia selalu tampak egois disetiap awal sebuah pertandingan dan berakhir habis pada setiap matahari tenggelam.

    Haii, lama kita tak saling bicara mengungkap rasa sudah sekian lama, pasti kau merindukan ucapan ucapan patah hati berkali-kali kan ? , Aku selalu malu mengunjungi mu setiap kali ada masalah yang tak pernah terselesaikan dengan baik, aku datang kepadamu untuk menyampaikan semuanya. 

    Banyak yang ingin ku cerita, cobalah baca ini sambil dengerin musik kesukaan mu "Geisha - Full album", aku seperti orang gila yang berbicara kepada diriku sendiri, namun sebenarnya itu perlu bercerita tentang sakitmu kepada dirimu sendiri karena seseorang bakal tidak peduli terhadap mu, apalagi seseorang yang telah berpartisipasi dalam menghancurkan hati hingga mimpimu, ayoo ucapkan terimakasih, kamu kan orang baik untuk dirimu sendiri, jangan sungkan untuk mengucapkan maaf juga kepada dirimu, karna kamu lah yang buat ia terluka hingga sesakit ini. Aku bingung mau menulis apa kali ini hanya saja, aku mendapatkan judul yang kalau di artikan dengan sederhana itu artinya, kau pemenangan atas dirimu sendiri, dan ketika petang kau seorang pecundang yang selalu merindu seseorang tanpa tak pernah berpamitan. Jika karangan tak berfaedah ini sampai di hadapan mu dan kau baca sambil bersama seseorang ataupun sendirian, saya harap jangan ada ketersinggungan antara kita yang pernah menjadi sebuah rasa. Aku menceritakan di versi apa yang aku rasakan, Terima kasih biarkan aku yang mengucapkan selamat tinggal dan berpamitan. 

#Hari-hari untuk patah hati yang rapih

Untuk memulai percakapan, ada rindu yang harus di selesai kan, kita begitu akur untuk di bilang sepasang kekasih yang kerjanya hanya menuliskan kata sayang disetiap harinya, bercerita tentang bagaimana kau menjalani keseharian dengan rasa rindu yang menggebu-gebu, sebenarnya penderitaan patah hati sudah pernah terjadi beberapa hari belakangan ini, sering ada kata kata penyesalan, perpisahan, kesenjangan, hingga kata kata maaf untuk bertahan. Seperti hujan yang melewati sebuah permukiman yang tak merata untuk jatuh airnya, masih ada sebagain yang kering terlihat jelas di rumah-rumah orang yang menginginkan datang nya hujan, namun aku tak berbicara tentang hujan, aku ingin bercerita tentang kita yang sekarang menjadi penghujan dihiasi air mata yang terus menerus tak di inginkan, mungkin hanya aku saja yang merasakan nya, tapi aku begitu yakin dia pergi meneteskan air mata seperti aku seorang pecundang. Hari itu benar-benar terik tanpa sedikitpun awan hitam ada di atas kepala ku, hanya ada kamu, kamu dan notifikasi kamu, namun setelah itu boom hujan seperti kabar yang menghancurkan, tanpa ada aba aba langsung menyerang tanpa pamitan, aku seperti orang kebingungan untuk mencari perlindungan, namun tak ada yang tau dimana untuk berteduh kali ini. selayaknya berteduh di pepohonan yang gugur dan mengering, tak sedikitpun berubah.


Komentar